Program DAUN BERCERITA mengajak siswa sekolah dasar belajar mengenali tanaman lokal, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta mengekspresikan kreativitas melalui praktik ecoprint.

PANDEGLANG – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University melaksanakan program DAUN BERCERITA di dua sekolah dasar di Desa Tembong, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Kegiatan dilaksanakan di SDN Tembong 2 pada Rabu, 22 Juli 2026, dan dilanjutkan di SDN Tembong 1 pada Kamis, 23 Juli 2026.
Sebanyak 55 siswa kelas IV, V, dan VI mengikuti kegiatan yang menggabungkan pengenalan dedaunan lokal, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta praktik pembuatan karya menggunakan teknik ecoprint. Melalui rangkaian tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak mengamati, berdiskusi, berkarya, dan menjawab kuis interaktif.
Keterangan foto: Siswa SDN Tembong 1 dan SDN Tembong 2 menunjukkan pouch hasil karya ecoprint dalam program DAUN BERCERITA yang dilaksanakan Tim KKNT Inovasi IPB University di Desa Tembong, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada 22–23 Juli 2026.
Program DAUN BERCERITA merupakan bagian dari payung program Tembong Lestari. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan pembelajaran lingkungan, kreativitas, dan pembiasaan hidup bersih dalam satu pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
Lingkungan Desa Tembong memiliki beragam tanaman yang dapat dijadikan sumber pembelajaran. Melalui kegiatan ini, tanaman yang biasa dijumpai siswa di sekitar rumah, sekolah, kebun, dan jalan desa diperkenalkan kembali dengan pendekatan yang lebih menarik.
Siswa diajak melihat bahwa setiap daun memiliki bentuk, tekstur, warna, susunan, manfaat, dan karakteristik yang berbeda. Pendekatan tersebut membuat lingkungan sekitar tidak hanya dipandang sebagai tempat tumbuhnya tanaman, tetapi juga sebagai ruang belajar yang dapat membantu anak memahami kekayaan alam desanya.
Koordinator program DAUN BERCERITA, Ahmad Ilham Husyairi, memperkenalkan sejumlah tanaman yang ditemukan di lingkungan Desa Tembong. Tanaman tersebut meliputi gamal, johar, sembung rambat atau Mikania, ketul atau ajeran, pacar air, singkong, cincau, dan salam.
Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa. Anak-anak diajak mengamati perbedaan bentuk daun, seperti daun yang memiliki banyak anak daun, berbentuk menyerupai tangan, memiliki tepi bergerigi, atau tumbuh merambat pada tanaman lain.
Melalui pengamatan tersebut, siswa belajar membandingkan, mengelompokkan, dan mengenali ciri tanaman. Mereka juga memperoleh pemahaman bahwa tanaman yang terlihat serupa belum tentu memiliki nama, fungsi, dan tingkat keamanan yang sama.
Pengenalan tanaman tidak hanya membahas manfaatnya, tetapi juga menekankan cara memperlakukan bahan alam secara aman dan bertanggung jawab. Siswa diingatkan untuk tidak mencicipi atau menggunakan tanaman yang belum dikenali. Dedaunan yang digunakan selama kegiatan telah dipilih dan disediakan oleh tim sebagai bahan pengamatan dan pembuatan ecoprint. Panduan kegiatan juga menegaskan bahwa tanaman hanya digunakan untuk pengamatan dan karya, bukan untuk dimasukkan ke dalam mulut atau dikonsumsi oleh anak-anak.
Setelah mengenal berbagai jenis tanaman, siswa mengikuti praktik pembuatan ecoprint menggunakan media pouch dan totebag berbahan kain. Teknik ini memanfaatkan bentuk serta pigmen alami daun untuk menghasilkan motif pada permukaan kain.
Sebelum praktik dimulai, mahasiswa memperagakan cara menyusun daun, menutupnya dengan lapisan pelindung, dan memukul permukaan kain secara perlahan. Demonstrasi dilakukan agar siswa memahami urutan kerja sekaligus menggunakan alat dengan aman.
Siswa kemudian memilih dan menyusun daun sesuai kreativitas masing-masing. Ada yang menyusun daun secara berjajar, membentuk pola simetris, maupun mengombinasikan beberapa jenis daun dalam satu karya. Setelah susunan selesai, permukaan kain dipukul secara perlahan hingga bentuk dan warna daun tercetak.
Setiap kelompok didampingi anggota Tim KKNT IPB. Pendampingan dilakukan untuk memastikan penggunaan alat tetap tertib, membantu siswa mengatur komposisi motif, dan mengurangi risiko selama praktik berlangsung.
Praktik ecoprint memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Motif yang muncul pada pouch dan totebag menjadi penghubung antara tanaman yang baru saja mereka pelajari dengan karya yang dapat dilihat dan digunakan. Dalam rancangan kegiatan, pengalaman berkarya memang ditempatkan sebagai bagian dari proses edukasi agar pembelajaran tidak hanya berbentuk ceramah.
Selain mengenalkan tanaman lokal, program DAUN BERCERITA juga memuat edukasi PHBS yang disampaikan oleh Salsabila Serly Maulina. Materi difokuskan pada kebiasaan yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Siswa diajak memahami pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah bermain, serta setelah memegang daun dan menyelesaikan praktik ecoprint.
Materi lainnya mencakup kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas dan halaman sekolah, memilih jajanan yang bersih, menggunakan toilet dengan benar, serta menjaga kebersihan tubuh dan barang pribadi.
Edukasi PHBS tidak disampaikan melalui ceramah panjang. Fasilitator menggunakan contoh perilaku yang dekat dengan keseharian siswa dan mengajak mereka membandingkan kebiasaan yang tepat dengan kebiasaan yang kurang sehat.
Misalnya, siswa diajak menentukan tindakan yang harus dilakukan setelah bermain, sebelum makan, ketika menemukan sampah di kelas, atau saat batuk dan bersin. Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa PHBS bukan sekadar materi pelajaran, melainkan kebiasaan yang harus dilakukan secara konsisten.
Pada akhir sesi, Tim KKNT IPB mengadakan kuis interaktif berhadiah. Pertanyaan yang diberikan mencakup nama dan ciri tanaman, tahapan pembuatan ecoprint, keselamatan ketika menggunakan bahan alam, serta contoh penerapan PHBS di sekolah dan di rumah.
Seluruh pertanyaan yang diajukan dapat dijawab oleh siswa. Antusiasme terlihat dari keberanian mereka mengangkat tangan dan menyampaikan jawaban di hadapan teman-temannya.
Kuis tersebut tidak digunakan sebagai post-test atau pengukuran akademik formal. Kegiatan ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengulang pesan penting, menjaga perhatian peserta, serta melihat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan.
Tim juga memberikan penghargaan kepada siswa yang menghasilkan karya ecoprint terbaik. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan kerapian, kejelasan motif daun, komposisi, dan kreativitas karya.
Pemberian penghargaan diharapkan dapat memicu semangat belajar dan mendorong siswa untuk menyelesaikan karya dengan sungguh-sungguh. Namun, apresiasi tidak hanya diberikan kepada pemenang. Seluruh hasil karya diserahkan kepada masing-masing siswa agar dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan sekaligus pengingat terhadap materi yang telah dipelajari.
Pelaksanaan DAUN BERCERITA mendapatkan dukungan dari pihak SDN Tembong 1 dan SDN Tembong 2. Pihak sekolah menyambut baik kehadiran mahasiswa dan memberikan kesempatan kepada Tim KKNT IPB untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran bersama siswa.
Guru turut membantu mengondisikan peserta, mendampingi jalannya kegiatan, serta memastikan siswa dapat mengikuti setiap rangkaian dengan tertib. Dukungan tersebut menjadi bagian penting karena kegiatan praktik membutuhkan kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan siswa.
Melalui DAUN BERCERITA, Tim KKNT Inovasi IPB University berharap siswa semakin mengenali tanaman yang tumbuh di lingkungan Desa Tembong, memahami cara memanfaatkan bahan alam dengan bertanggung jawab, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.
Program ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui buku dan penjelasan di dalam kelas. Dedaunan yang tumbuh di sekitar desa dapat menjadi media belajar, bahan berkarya, sekaligus pintu masuk untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kepedulian anak terhadap lingkungan.
