18 Tahun Menanti Air, Kerusakan Irigasi Desa Tembong Mulai Diidentifikasi Pemerintah

18 Tahun Menanti Air, Kerusakan Irigasi Desa Tembong Mulai Diidentifikasi Pemerintah

Pemerintah Identifikasi Tiga Titik Infrastruktur Irigasi di Desa Tembong, Puluhan Hektare Sawah Terdampak

PANDEGLANG — Persoalan jaringan irigasi yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu kendala pertanian di Desa Tembong, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, mulai mendapatkan perhatian. Pada Rabu, 22 Juli 2026, tim dari unsur pemerintah daerah dan penyuluh pertanian melakukan identifikasi lapangan terhadap sejumlah titik infrastruktur pengairan yang mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan.

Identifikasi tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas informasi mengenai kondisi pertanian Desa Tembong yang sebelumnya diberitakan media. Persoalan keterbatasan air menjadi perhatian karena berdampak langsung terhadap kemampuan petani dalam mengelola lahan sawah di wilayah tersebut.

Kegiatan identifikasi lapangan melibatkan unsur Dinas Pertanian tingkat provinsi, bidang prasarana pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, penyuluh pertanian Kecamatan Carita dan Kecamatan Jiput, serta kelompok tani setempat.

Dari peninjauan tersebut, sedikitnya tiga titik infrastruktur pengairan teridentifikasi membutuhkan perbaikan maupun pembangunan.

Titik pertama berada di Hulu Cipadarek. Infrastruktur di lokasi tersebut dinilai membutuhkan perbaikan satu unit dam atau bendung serta satu unit jaringan pipa. Infrastruktur ini memiliki posisi penting karena berkaitan dengan pengairan lahan pertanian di beberapa wilayah.

Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, jaringan pengairan dari kawasan tersebut berhubungan dengan sekitar 80 hektare lahan sawah di Desa Tembong, sekitar 20 hektare di Desa Banjarmasin, serta kurang lebih 5 hektare lahan di wilayah Jiput.

Dengan demikian, persoalan infrastruktur di Hulu Cipadarek tidak hanya berpengaruh terhadap Desa Tembong, tetapi berpotensi menyangkut keberlanjutan aktivitas pertanian pada kawasan yang lebih luas.

Titik kedua berada pada saluran irigasi Kampung Salabarang, Desa Tembong. Di lokasi ini telah terdapat infrastruktur pengairan berupa dam yang sebelumnya dibangun menggunakan dana desa. Saluran tersebut mengairi sejumlah area pertanian di Desa Tembong, termasuk kawasan Blok Kokosan dan Blok Kubang.

Namun, kondisi jaringan yang ada dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pengairan secara optimal. Dari hasil peninjauan, diperlukan pembangunan satu unit dam dan parit baru untuk meningkatkan distribusi air menuju areal pertanian.

Sementara itu, titik ketiga berada di saluran irigasi Cikubang. Sumber air di kawasan tersebut berasal dari air serapan atau rembesan alami. Agar sumber air tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih efektif oleh petani, diperlukan pembangunan satu unit saluran irigasi tersier.

Temuan di tiga lokasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian Desa Tembong tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan lahan, tetapi juga dengan infrastruktur dasar yang menentukan apakah air dapat sampai ke sawah petani.

Bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, keberadaan jaringan irigasi menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan kegiatan produksi. Ketika distribusi air tidak berjalan dengan baik, petani menghadapi risiko berkurangnya luas tanam hingga menurunnya produktivitas pertanian.

Identifikasi lapangan menjadi langkah awal untuk memperoleh gambaran teknis mengenai kebutuhan infrastruktur di masing-masing lokasi. Masyarakat Desa Tembong berharap hasil peninjauan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi program perbaikan yang konkret sehingga jaringan pengairan kembali berfungsi.

Bagi Desa Tembong, pemulihan irigasi bukan hanya persoalan membangun dam, pipa, atau saluran air. Air yang kembali mengalir ke persawahan berarti menghidupkan kembali lahan pertanian, mempertahankan mata pencaharian petani, sekaligus membuka peluang agar hamparan sawah tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi berikutnya.